Menyelami dunia kreatif digital bersama Lucy Novita

Menyelami dunia kreatif digital bersama Lucy Novita
Menyelami dunia kreatif digital bersama Lucy Novita
© beritagar.id /beritagar.id

Perkembangan dunia kreatif, khususnya di era digital, selama beberapa tahun terakhir sangat pesat. Salah satu penyebabnya tentu penetrasi digital dan teknologi yang juga semakin masif di Indonesia.

Lahirnya berbagai platform dan aplikasi memberikan banyak ruang bagi pekerja kreatif untuk berkarya.

Bicara ihwal karya yang dihasilkan oleh pekerja kreatif di dunia digital kini tak lagi sebatas iklan, iklan, dan iklan, baik berupa lembaran brosur ataupun TVC monoton yang dijejalkan kepada konsumen.

Perkembangan tren digital juga memberikan dampak kepada variasi konten kreatif yang bermunculan saat ini.

Paparan meme, video DIY, video tutorial, hingga infografik di era digital dan media sosial tak bisa lagi kita elakkan. Itu pun hanya sebagian kecil wujud variasi konten kreatif yang banyak beredar dewasa ini.

Iklan pesanan dari klien atau sekadar materi yang menjadi kebutuhan pemasaran perusahaan sendiri kini dapat diolah sedemikian rupa menjadi konten yang lebih menarik dan juga mudah dibagikan (shareable) melalui gawai.

Saat mengulik dunia kreatif digital maka akan muncul satu nama, Lucy Novita, yang memiliki jam terbang tinggi. Kiprahnya di industri kreatif tak perlu lagi dipertanyakan.

Bayangkan saja, pada 2015, Lucy menjadi perempuan satu-satunya dari Indonesia yang masuk di jajaran juri Cannes Lions Festival Creativity. Rasanya, prestasi tersebut sudah cukup untuk mewakili kiprah dan prestasi ibu dua orang anak tersebut di industri kreatif.

Menurut Lucy, di era digital, peranan perangkat digital di dunia kreatif tidak lebih dari sebatas alat yang digunakan untuk menyajikan karya yang dihasilkan.

"Technology is just a tool, yang paling penting adalah ide," ujarnya membuka sesi berbagi di kantor Beritagar.id pada 26/4/2018.

Di dalam industri kreatif, sebuah ide akan lahir dari proses kreatif.

Dalam praktiknya, proses kreatif dapat digambarkan sebagai sebuah design thinking yang di dalamnya dikelompokkan kembali menjadi beberapa fase, yakni inspiration, ideation, dan implementation.

Bagi Lucy, dari ketiga tahapan tersebut, proses ideation memegang peranan yang sangat penting dalam hal menghasilkan karya kreatif. "Ideation adalah mengubah konsep yang ada di dalam benak ke dalam bentuk kata-kata dan visual," jelas Lucy.

Untuk membantu para pekerja kreatif dalam mengejawantahkan sebuah konsep, ada empat peraturan dasar proses pembuatan ide yang dapat diikuti, yakni combine, what if, mimic, dan upside down.

Combine adalah menggabungkan sesuatu yang sudah ada sebelumnya menjadi sebuah "barang baru" dari sudut pandang baru.

Untuk salah satu peraturan dasar dalam menggali ide, combine misalnya, Lucy memberikan sebuah contoh hasil kerja yang pernah dihasilkan oleh rekan kerjanya di Hakuhodo, Jepang, yakni memadukan e-commerce dengan rice art yang menghasilkan rice code.

Aplikasi Rice Code memberikan pengalaman belanja menyenagkan bagi pelanggan. Hanya dengan mengambil sebuah gambar rice art di salah satu area persawahan, pelanggan bisa langsung membeli beras yang ditanam di tempat tersebut dan diantarkan langsung ke depan pintu rumah konsumen.

Dari keempat peraturan dasar pembuatan ide, Lucy menyayangkan seringkali konsep 'mimic' disalahartikan sebagai meng-copy apa yang sudah ada oleh pekerja kreatif.

Padahal, menurut Lucy, mimicking adalah meminjam konsep fundamental sesuatu yang sudah ada untuk menghasilkan sebuah ide baru.

Dalam proses kreatif, Lucy menekankan pentingnya peranan keempat basic rules of thinking bagi setiap pekerja kreatif agar dapat menghasilkan ide yang sesuai dengan apa yang diharapkan oleh klien.

"Biasanya tuh orang kreatif banyak banget ide yang malah bikin nggak fokus. Nah, kalian harus kembali lagi ke basic rules of thinking karena apa yang kalian buat adalah sesuatu untuk disajikan ke audience. Pertama yang harus diingat adalah tentukan tujuan dari kampanye yang sedang dikerjakan. Kemudian, cari sudut pandang baru yang sesuai dengan objective dan juga dekat dengan masyarakat," jelas Lucy.

Menurut Lucy, ada banyak proses pembuatan ide di luar sana yang dapat digunakan oleh para pekerja kreatif.

Namun bagi perempuan yang telah berkecimpung di dunia periklanan selama lebih dari 16 tahun ini, keempat hal yang ia sebut adalah cara paling sederhana yang dapat membantu pekerja kreatif dalam menggali ide.

Dalam industri kreatif, penggalian ide untuk menentukan isu menarik adalah proses terpenting dari keseluruhan proses kreatif (inspiration, ideation, implementation).

Saat ini, Lucy yang menjabat sebagai Creative & Strategy Director, Kaskus Networks kembali ke bangku kuliah untuk mengambil program EMBA di Berlin School of Creative Leadership of Steinbeis University.

Prestasi dan karyanya di dunia kreatif digital membuat Lucy bersama empat perempuan lain dari GDP Venture , Aliya Amitra, Arie Endrayani, Hernisa Clara Amelia , dan Ayu Purwarianti didapuk menjadi Srikandi Digital.

Mengusung semangat Hari Kartini pada bulan April ini, GDP Venture mengangkat kisah semangat perempuan inspiratif berlatar belakang dunia digital dan teknologi.

Melalui sosok Srikandi Digital, GPD Venture seolah ingin menegaskan bahwa saat ini perempuan Indonesia turut menciptakan solusi sebuah tantangan dengan berbagi semangat dan saling menginspirasi.

BACA JUGA