Cerita Ancha Hardiansya, kontributor Beritagar.id Juara ASEAN Literary Festival 2017

Bissu Acce hingga sekarang setia menjaga bola ridie (rumah kuning) yang berisi banyak pusaka peninggalan kerajaan Soppeng
Bissu Acce hingga sekarang setia menjaga bola ridie (rumah kuning) yang berisi banyak pusaka peninggalan kerajaan Soppeng
© © Hariandi Hafid /Beritagar.id

Bagi pembaca setia Beritagar.id tentu tak asing lagi dengan kanal Laporan Khas. Dalam kanal ini, kami mengangkat berbagai topik mulai dari politik, ekonomi, hingga sosial, yang diceritakan secara terperinci.

Suatu prestasi membanggakan telah diraih salah satu artikel pada kanal Laporan Khas yang berjudul "Bissu, gender kelima dari tanah Bugis". Ditulis secara khusus oleh kontributor Beritagar.id yang bermukim di Makassar, Ancha Hardiansya.

Karyanya masuk sebagai salah satu nominasi Lomba Menulis dan Liputan "Keberagaman Gender dan Seksualitas" yang diselenggarakan ASEAN Literary Festival 2017 dan berhasil meraih juara harapan kategori wartawan.

Dalam artikel "Bissu, gender kelima dari tanah Bugis", Ancha tak sekadar menceritakan seluk beluk Bissu, namun juga permasalahan hingga peranan penting dalam tatanan masyarakat dahulu.

Khususnya pada kerajaan, Bissu punya andil besar dalam berbagai ritual serta mengatur berbagai hal. Tapi kini jumlahnya banyak berkurang dan diabaikan masyarakat. Singkat kata, Laporan Khas karya Ancha menarik, inspiratif, inovatif, serta secara mendalam membahas tentang keberagaman.

Kepada kami, Ancha Hardiansya bercerita ihwal proses peliputan artikel di lapangan yang menghabiskan dua hari di bulan Ramadan tahun ini. Ancha menjelaskan, topik bisu dipilih mengalahkan lima topik lain yang diajukan untuk Laporan Khas. Karena memang pada awalnya, Laporan Khas dipersiapkan untuk menggali lebih dalam masalah Bissu, alih-alih mempersiapkan artikel untuk dilombakan.

Ancha berbagi mengenai keseruan saat dirinya ditemani seorang fotografer dan sopir, mengunjungi satu per satu narasumber yang harus langsung didatangi karena para Bissu tidak memiliki ponsel untuk komunikasi jarak jauh. Maka tak heran, beberapa narasumber sempat menolak kedatangan Ancha dan rekan-rekan. Ada pula narasumber yang baru mau bercengkrama setelah melalui ritual khusus.

Tak hanya itu, bahasa pun menjadi hambatan saat mencari informasi. Pasalnya, beberapa orang Bissu tak bisa berbahasa Indonesia dan masih menggunakan bahasa Bugis tradisional, berikut dengan kiasannya. Beruntung, sopir yang menemani Ancha adalah orang Bugis yang paham dengan bahasa daerah sehingga wawancara dapat kembali diteruskan.

Ancha sama sekali tidak menyangka dirinya dapat menjadi salah satu pemenang dalam lomba menulis dan liputan ALF 2017.

"Kalau dibilang senang, sebenarnya iya. Tapi juga beban moralnya berat bagi saya. Ini soal kemanusiaan dan saya menang dengan cerita mereka", jelas Ancha.

Ia berharap tulisannya dapat membuka mata dan menambah wawasan masyarakat mengenai Bissu serta bermanfaat bagi orang lain.

Sekali lagi, selamat untuk Ancha Hardiansya dan artikelnya yang terpilih sebagai pemenang harapan lomba menulis dan liputan "Keberagaman Gender dan Seksualitas" ALF 2017.

BACA JUGA